Showing posts with label Legendaris. Show all posts
Showing posts with label Legendaris. Show all posts

Profil Pemain Legendaris Ruud Van Nistelrooy

Rutgerus Johannes Martinius Ruud van Nistelrooij atau yang dikenal dengan nama Ruud van Nistelrooy (lahir di Oss, Brabant Utara, Belanda, 1 Juli 1976; umur 42 tahun) adalah seorang mantan pemain sepak bola asal Belanda. Ia merupakan pencetak gol terbanyak ketiga sepanjang masa dalam sejarah Liga Champions dengan torehan 56 gol. Ia pernah menjadi pencetak gol terbanyak Liga Champions sebanyak 3 kali dan juga pernah menjadi pencetak gol terbanyak di 3 liga elit Eropa yang berbeda. Saat masih aktif berkarier, ia pernah berganung dengan klub PSV Eindhoven, Manchester United, Real Madrid, Hamburger SV, dan Málaga.


Van Nistelrooy memulai kariernya sebagai pemain bertahan, yang kemudian beralih menjadi gelandang menyerang saat berada di klub FC Den Bosch. Pada akhirnya ia dipindahkan ke posisi penyerang, saat bermain untuk SC Heerenveen pada tahun 1997. Pada ulang tahunnya yang ke-22, van Nistelrooy dikontrak oleh PSV Eindhoven dengan harga € 6,3 juta, yang menjadi rekor transfer pemain termahal di antara kedua klub.

Di musim pertamanya, dia berhasil mencetak 31 gol dari 34 penampilan dan menjadi pencetak gol peringkat satu di Belanda dan peringkat kedua di seluruh Eropa. Di musim yang samsa, ia mendapat penghargaan sebagai Pemain Terbaik Belanda.

Pada musim keduanya di PSV, van Nistelrooy berhasil mengoleksi 29 gol dari 23 penampilan. Ia pun kembali menjadi pencetak gol terbanyak, sekaligus membantu membawa timnya meraih gelar Eredivisie. Musim berikutnya, ia kembali meraih gelar liga keduanya walau sempat berkutat dengan urusan cedera.

Ruud van Nistelrooy
Ruud-van-Nistelrooy3.jpg
Informasi pribadi
Nama lengkapRutgerus Johannes Martinus van Nistelrooij
Tanggal lahir1 Juli 1976 (umur 42)
Tempat lahirOssBrabant UtaraNetherlands
Tinggi1,88 m (6 ft 2 in)
Posisi bermainStriker
Karier senior
TahunTimTampil(Gol)
1993–1997Den Bosch69(17)
1997–1998Heerenveen31(13)
1998–2001PSV Eindhoven67(62)
2001–2006Manchester United150(95)
2006–2010Real Madrid68(46)
2010–2011Hamburger SV36(12)
2011–2012Málaga28(4)
Total449(249)

Manchester United
Manchester United hampir mengontrak van Nistelrooy pada 25 April 2000 dari PSV Eindhoven dengan harga £18,3 juta. Namun hal tersebut dibatalkan karena van Nistelrooy mengalami cedera ligamen pada Maret 2000. Barulah Manchester United resmi mengontraknya pada tanggal 23 April 2001, yang sekaligus memecahkan rekor transfer baik di Liga Inggris maupun di Liga Belanda, dengan nilai transfer sebesar £19 juta.

Di musim pertamanya bersama Manchester United, van Nistelrooy berhasil mencetak 23 gol dari 32 penampilannya di liga, plus 10 gol di ajang Liga Champions, yang kemudian membuatnya menjadi debutan terbaik. Di akhir musim, van Nistelrooy mendapat penghargaan sebagai Pemain Terbaik PFA. Pada musim berikutnya, van Nistelrooy mencetak 25 gol di Liga Primer, yang membawa Manchester United merebut gelar Liga Primer-nya yang ke-15.

Van Nistelrooy memulai musim 2003-04 dengan performa yang spektakuler. Ia juga berhasil mencetak gol ke 100 dan 101-nya ke gawang Everton di Goodison Park pada 7 Februari 2004, dengan skor kemenangan 4–3. Pada musim ini pula, van Nistelrooy berhasil mencetak gol ketiga puluhnya di Liga Champions, yang memecahkan rekor klub sebelumnya, yang dipegang oleh Denis Law dengan catatan 28 gol.

Van Nistelrooy melewati musim selanjutnya dengan masa cedera yang cukup panjang. Namun ia masih bisa menjadi pencetak gol terbanyak Liga Champions musim itu, sekaligus menjadi striker yang paling banyak menyumbangkan gol di Liga Champions saat itu, setelah Andriy Shevchenko, Raul Gonzalez dan Filippo Inzaghi. Pada musim 2005–06, van Nistelrooy mulai pulih dari cederanya, dan mencetak gol pada setiap pertandingan sampai pekan ke-4. Musim tersebut, van Nistelrooy hanya berhasil mengkoleksi 21 gol, satu peringkat di bawah Thierry Henry.

Menjadi pemain yang tidak diturunkan Sir Alex Ferguson pada laga final Piala Carling tahun 2006 melawan Wigan Athletic, membuat van Nistelrooy kecewa. Hal ini menimbulkan kontroversi di kalangan media dan para fans. Tapi van Nistelrooy menyangkal bahwa dia bermasalah dengan Ferguson. Van Nistelrooy pun sempat ditempatkan di bangku cadangan selama 6 pekan berturut-turut. Tetapi pada laga melawan West Ham, dia diturunkan sebagai stater dan kapten, serta mencetak gol kemenangan bagi Manchester United. Lalu van Nistelrooy mencetak gol kemenangan ketika menjadi pengganti saat melawan Bolton. Pada saat van Nistelrooy kerap menjadi pemain pengganti, Thierry Henry dengan mudah mengambil posisinya sebagai pencetak gol terbanyak.

Pada 9 Mei 2006, Setanta Sports melaporkan van Nistelrooy dan rekan se-timnya, Cristiano Ronaldo, berkelahi pada saat sesi latihan. Van Nistelrooy memarahi Cristiano Ronaldo karena tidak mengoper bola padanya, lalu mereka berkelahi. Van Nistelrooy berteriak padanya, "Pergilah, menangislah pada ayahmu", padahal ayah Ronaldo sudah meninggal dunia pada awal musim. Menurut van Nistelrooy, kata "ayahmu" maksudnya bukan ayah kandung, namun Carlos Queiroz, asisten Alex Ferguson.

Selama di Manchester United, van Nistelrooy total mengkoleksi 150 gol, dari 200 kali penampilan sebagai stater dan 19 kali sebagai pemain pengganti.

Real Madrid
Pada tanggal 15 Juli 2006, Ferguson memberikan konfirmasi perihal kepergian van Nistelrooy dari Manchester United. Dua pekan kemudian, Real Madrid resmi mengumumkan kesepakatan dengan van Nistelrooy dalam kontrak durasi tiga tahun senilai €24 juta.

Di pertandingan liga keduanya, kontra Levante U.D, van Nistelooy berhasil mencetak hat-trick pertamanya untuk Madrid. Ketika pertandingan El Clasico, van Nistelrooy berhasil mencetak gol pada menit ke-7. Pada tanggal 12 November 2006, van Nistelrooy memborong keempat gol Madrid saat melibas CA Osasuna 4–1. Di akhir musim, van Nistelrooy mendapatkan penghargaan sebagai El Pichichi dengan koleksi 25 gol, sekaligus berhasil membawa timnya memenangkan gelar liga musim 2006–07. Ia juga berhasil membukukan rekor sebagai pemain yang berhasil mencetak gol di tujuh pertandingan La Liga secara beruntun, rekor tertinggi yang juga pernah ditorehkan oleh Hugo Sánchez.

Van Nistelrooy meneken perpanjangan kontrak di Madrid hingga tahun 2010 pada bulan Januari 2008. Ia sempat menjalani operasi pergelangan kaki pada bulan Maret, dan kembali bermain pada partai El Clásico melawan Barcelona tanggal 7 Mei. Pada pertandingan tersebut, ia berhasil mencetak gol lewat titik putih, dua menit setelah masuk sebagai pemain pengganti. Ia menutup musim keduanya di Madrid dengan raihan 20 gol dari 33 penampilan.

Bulan November 2008, Real Madrid mengumkan bahwa van Nistelrooy akan absen di sisa laga musim 2008–09, setelah sebuah pemeriksaan menunjukkan adanya sebagian menikus di lutut kirinya yang robek, yang membutuhkan waktu penyembuhan sekitar 6-9 bulan, ditambah dengan jadwal pelaksanaan operasi kedua. Van Nistelrooy pun pergi ke Amerika serikat guna bertemu dengan spesialis Richard Steadman, yang sebelumnya juga pernah mengoperasi lututnya pada tahun 2000. Pada masa-masa cederanya ini, ia berhasil mengumpulkan 10 gol dari 12 pertandingan musim tersebut. Karena cedera tersebut, namanya dihapus dari skuat Real Madrid di sisa musim tersebut dan nomor punggungnya diberikan kepada Dani Parejo. Pada 24 Agustus 2009, di pertandingan terakhir pra musim La Liga, Van Nistelrooy kembali merumput untuk pertama kalinya usai cedera, saat bermain di 15 menit terakhir melawan Rosenborg.

Van Nistelrooy masuk menggantikan Cristiano Ronaldo pada menit 80 saat melawan Xerez di pertandingan La Liga pertamanya setelah sembuh dari cedera. Di menit 81, ia berhasil memberikan umpan untuk gol Benzema, yang dilanjutkan dengan torehan golnya sendiri pada menit 88. Namun, ia justru terkena cedera paha pada pertandingan tersebut. Real Madrid pun mengumumkan bahwa ia akan absen dari tim utama selama 6 pekan.[12] Pada 27 Oktober, Van Nistelrooy melakukan comeback keduanya pada musim tersebut saat menggantikan Raúl di menit 71, melawan Alcorcon di ajang Copa del Rey.

Hamburger SV
Pada 23 Januari 2010, van Nistelrooy meneken sebuah kontrak berdurasi 18 bulan dengan klub asal Jerman, Hamburg, hingga Juni 2011. Ia tampil perdana untuk klub, saat masuk menjadi pemain pengganti di dua menit terakhir pertandingan saat Hamburg imbang 3–3 dengan Cologne pada 6 Februari. Van Nistelrooy mencetak dua gol pertamanya pada 13 Februari 2010, saat melawan Stuttgart pada menit 75 dan 77, yang membuat Hamburg menang 3-1. Pada 11 Maret 2010, van Nistelrooy mencetak gol pertamanya di ajang Liga Eropa UEFA, pada menit 40 ke gawang Anderlecht.

Pada 15 Agustus 2010, van Nistelrooy mencetak satu-satunya hat-trick selama berseragam Hamburg, saat menang 5–1 atas Torgelower SV Greif pada ajang DFB-Pokal 2010–11. Di pertandingan kontra Hannover pada 16 April 2011, van Nistelrooy mendapat cedera betis yang membuatnya harus istirahat hingga akhir musim.

Di musim keduanya bersama Hamburg tersebut, Van Nistelrooy berhasil mengumpulkan 7 gol dan 2 umpan dari 25 penampilan .

Málaga
1 Juni 2011, van Nistelrooy bergabung dengan Málaga CF usai meneken kontrak satu tahun dengan status bebas transfer. Setelah bergabung, van Nistelrooy diperkenalkan oleh klub di Stadion La Rosaleda di hadapan 15,000 fans Malaga. Van Nistelrooy menjalani debutnya saat kalah 2–1 dari Sevilla pada pertandingan pertama di musim 2011–12.

Pada 1 Oktober 2011, saat bertanding kontra Getafe, ia berhasil mencetak gol pertamanya untuk Málaga. Pada 21 Desember, melawan klub yang sama di ajang Copa del Rey 2011–12, ia membuka keunggulan dengan tendangan volinya sehingga Málaga menang agregat 3–2. Setelahnya, van Nistelrooy mencetak dua gol lagi di ajang liga ke gawang Espanyol dan Racing de Santander, yang merupakan gol terakhir dalam kariernya. Hanya satu hari sebelum masa pensiunnya, van Nistelrooy tampil di laga terakhirnya, saat menggantikan José Salomón Rondón, pencetak gol tunggal pada laga kontra Sporting de Gijón tersebut, pada menit 75.

Karier internasional
Van Nistelrooy telah mengoleksi 70 penampilan dan 35 gol untuk Belanda. Ia menjalani debutnya di tim senior saat pertandingan persahabatan kontra Jerman pada 18 November 1998. Namun, cedera ligamen krusiat yang membuat kepindahnnya ke Manchester United tertunda, juga membuatnya absen di Euro 2000.

Karena Belanda tidak lolos pada putaran final Piala Dunia 2002, van Nistelrooy tak kunjung menjalani debut turnamen pertamanya hingga Euro 2004, saat ia dan pemain Chili, Milan Baroš, menjadi dua pemain yang mampu mencetak gol di seluruh pertandingan babak grup. Ia kembali masuk dalam skuat pilihan Marco van Basten untuk putaran final Piala Dunia 2006. Pada saat yang sama, ia juga terpilih menjadi duta dari FIFA/SOS. Ia selalu menjadi starter dan selalu ditarik keluar untuk digantikan, di seluruh pertandingan babak grup, dan hanya mampu mencetak satu gol (ke gawang Pantai Gading). Tanpa penjelasan apapun, van Nistelrooy dibangkucadangkan oleh van Basten pada babak 16 besar. Saat itu, ia hanya bisa duduk dan melihat timnya tersingkir oleh Portugal.

Van Basten tak memanggil van Nistelrooy saat Belanda melakukan pertandingan persahabatan melawan Irlandia pada 16 Agustus 2006. Kemudian, Dirk Kuyt menggantikan posisi van Nistelrooy pada pertandingan selanjutnya kontra Portugal pada bulan September. Sehingga, saat Klaas-Jan Huntelaar tak bisa tampil untuk kualifikasi Euro 2008 melawan Bulgaria dan Belarus akibat cedera, van Nistelrooy menolak panggilan van Basten untuk mengisi posisi yang kosong tersebut.

Pada 23 Januari 2007, van Nistelrooy mengumumkan kepensiunan dirinya di level internasional akibat perselisihannya dengan pelatih Marco van Basten. Namun, usai diadakan beberapa pembicaraan khusus lewat telepon, ditambah bujukan dari Edwin van der Sar, pemain dan pelatih Belanda tersebut sepakat untuk menyudahi perselisihan mereka. Empat bulan kemudian, van Basten mengumumkan bahwa van Nistelrooy akan kembali ke skuat Oranje. Pada 8 September, Van Nistelrooy mengisi posisi yang ditinggalkan Huntelaar, sebagaimana telah diminta sebelumnya, saat pertandingan kualifikasi melawan Bulgaria. Pada pertandingan tersebut, ia berhasil mencetak gol dengan skor akhir 2–0 untuk kemenangan Belanda. Ia juga berhasil mencetak gol penentu pada injury time saat Belanda mengalahkan Albania, empat hari kemudian.

Pada Euro 2008, van Nistelrooy mencetak satu gol saat Belanda menang 3–0 melawan Italia di babak grup, dan mencetak gol penyeimbang saat takluk 3–1 dari Rusia. Pada 4 Agustus, ia kembali mengumumkan kepensiunan dirinya dari kompetisi internasional.

Saat persiapan Piala Dunia 2010, van Nistelrooy kembali menyatakan bahwa dirinya siap bermain kembali untuk Belanda. Namun ia tak kunjung juga dipanggil oleh van Marwijk, pelatih Belanda saat itu. Setelah striker utama, Robin van Persie, dibekap cedera saat bertanding bersama klubnya Arsenal, van Marwijk memberikan van Nistelrooy kesempatan untuk membuktikan diri bahwa dirinya pantas bermain sebagai striker utama Belanda. Van Nistelrooy dipanggil untuk berlaga di dua pertandingan kualifikasi Grup E Euro 2012 kontra San Marino dan Finlandia. Ia berhasil mencetak gol kala Belanda menang 5–0 atas San Marino pada 3 September 2010.

Ia kembali lagi dipanggil ke skuat pada Maret 2011 untuk dua pertandingan kualifikasi Euro 2012 melawan Hungaria, menyusul cedera yang dialami Klaas-Jan Huntelaar, Arjen Robben dan Theo Janssen. Di partai tandang pada 25 Maret, ia tampil sebagai pemain pengganti untuk Dirk Kuyt.Sementara saat partai kandang di Amsterdam empat hari kemudian, ia kembali bermain sebagai pemain pengganti dan berhasil mencetak gol internasionalnya yang ke-35.

Kehidupan pribadi
van Nistelrooy menikah dengan kekasihnya, Leontine Slaats, pada tahun 2004 dan memiliki seorang anak perempuan yang bernama Moa Annette yang lahir pada 26 September 2006.

Penghargaan

Klub
PSV Eindhoven
Eredivisie (2): 1999–2000, 2000–01
Piala Johan Cruijff (2): 1998, 2000

Manchester United
Liga Utama Inggris (1): 2002–03
Piala FA (1): 2003–04
Piala Liga Inggris (1): 2005–06
Community Shield (1): 2003

Real Madrid
La Liga (2): 2006–07, 2007–08
Piala Super Spanyol (1): 2008

Individual
Pencetak Gol Terbanyak Eredivisie (2):1998–99, 1999–2000
Pemain Terbaik Belanda (2): 1999, 2000
Pemain Terbaik Bulanan Liga Utama Inggris (3): Desember 2001, Februari 2002, April 2003
Penyerang Terbaik Liga Champions UEFA (1): 2001–02
Pencetak Gol Terbanyak Liga Champions (3): 2001–02, 2002–03, 2004–05
Sir Matt Busby Player of the Year (2): 2001–02, 2002–03
ESM Team of the Year (1): 2001–02
IFFHS World's Top Goal Scorer of the Year (1): 2002
PFA Fans' Player of the Year (1): 2002
PFA Players' Player of the Year (1): 2001–02
Tim Terbaik PFA (2): 2001–02, 2003–04
Gol Terbaik Bulanan Liga Utama Inggris (1): Maret 2003
Barclays Player of the Year (1): 2002–03
Sepatu Emas Liga Utama Inggris (1): 2002–03
UEFA Club Forward of the Year (1): 2002–03
UEFA Team of the Year (1): 2003
FIFA 100
UEFA Euro Silver Boot (1): 2004
UEFA Euro Team of the Tournament: 2004
Trofi Pichichi (1): 2006–07
IFFHS World's Top Goal Scorer of the Decade 2001–2010

sumber : wikipedia, google



Profil Pemain Legendaris Luis Figo

Luís Filipe Madeira Caeiro Figo  lahir 4 November 1972) adalah pemain bola Portugal yang bermain sebagai gelandang untuk Sporting CP, Barcelona, ​​Real Madrid dan Inter Milan sebelum pensiun pada 31 Mei 2009. Ia memenangkan 127 caps untuk tim nasional Portugal, rekor pada saat itu tetapi kemudian dipatahkan oleh Cristiano Ronaldo.



Terkenal karena kreativitas dan kemampuannya untuk mendapatkan pemain bertahan sebagai pemain sayap, Figo dianggap sebagai salah satu pemain terhebat di generasinya.  Nya 106 assist adalah yang kedua paling dalam sejarah La Liga, di belakang Lionel Messi.  Dia memenangkan 2000 Ballon d'Or, Pemain Terbaik Dunia FIFA tahun 2001, dan pada tahun 2004 Pelé menobatkannya dalam daftar FIFA 100 dari pemain hidup terbesar dunia.  Figo adalah salah satu dari beberapa pemain sepakbola yang bermain untuk klub-klub rival Spanyol Barcelona dan Real Madrid. Transfer kontroversialnya pada 2000 dari Barcelona ke rival sekota Real Madrid membuat rekor biaya dunia € 62 juta. 

Figo memiliki karir yang sukses disorot oleh beberapa kemenangan trofi, termasuk Piala Portugal, empat gelar La Liga, dua Piala Spanyol, tiga Piala Super Spanyol, satu gelar Liga Champions UEFA, satu Piala UEFA Pemenang Piala, dua Piala Super UEFA, satu Intercontinental Piala, empat gelar Serie A, satu Piala Italia, dan tiga Piala Super Italia. Di tingkat internasional, ia mencetak 32 gol untuk Portugal, mewakili negara di tiga Kejuaraan Eropa dan dua Piala Dunia, membantunya menyelesaikan runner-up di Euro 2004.

Luís Figo
L. Figo 2017.jpg
Informasi pribadi
Nama lengkapLuís Filipe Madeira Caeiro Figo
Tanggal lahir4 November 1972 (umur 45)
Tempat lahirLisbonPortugal
Tinggi180 m (590 ft)[1]
Posisi bermainGelandang
Karier junior
1984–1989Sporting CP
Karier senior*
TahunTimTampil(Gol)
1989–1995Sporting CP137(16)
1995–2000Barcelona172(30)
2000–2005Real Madrid164(36)
2005–2009Internazionale105(9)
Total579(91)
Tim nasional
1991–2006Portugal127(32

Karier klub

Sporting CP
Figo memulai karirnya di Sporting CP, membuat debut liga pada 1 April 1990 selama musim 1989-90 sebagai pengganti Marlon Brandão dalam kemenangan kandang 1-0 melawan Marítimo.  Pada tanggal 7 Desember 1991, Figo mencetak gol pertamanya melawan Torreense di musim 1991-92, menyamakan kedudukan saat Sporting menang 2-1. Ia memenangkan topi internasional pertamanya pada tahun 1991. Sebelum itu, ia memenangkan Kejuaraan Dunia U-20 dan Ke-16 Kejuaraan Eropa dengan tim junior Portugal bersama Rui Costa dan João Pinto. Dia juga merupakan bagian penting dari "Generasi Emas" Portugal. Di musim terakhirnya di Sporting ia memenangkan Piala Portugis 1994–95. [10]

Barcelona
Pada tahun 1995, Figo tampak siap untuk bergabung dengan salah satu klub besar Eropa, tetapi perselisihan antara klub Italia Juventus dan Parma, dengan Figo setelah menandatangani kontrak dengan kedua klub, menghasilkan larangan transfer dua tahun Italia kepadanya. Akhirnya, Figo pindah ke klub raksasa Spanyol, Barcelona, ​​dengan bayaran 2,25 juta poundsterling, yang dipinjamkan kembali untuk sisa musim ini karena peraturan yang melarang pemain Portugal menandatangani kontrak untuk klub asing di luar periode tetap. Peraturan ini telah mencegah Figo bergabung dengan klub Inggris Manchester City, di mana ia direkomendasikan oleh mantan manajer Sporting Malcolm Allison dengan bayaran sekitar £ 1,2 juta. 

Itu dengan Barcelona bahwa karir Figo benar-benar lepas landas, memenangkan Piala UEFA Cup Winners 1996-1997, membintangi bersama Ronaldo, diikuti oleh gelar Primera División berturut-turut di mana ia adalah bagian dari serangan hebat yang termasuk Rivaldo dan Patrick Kluivert. Secara total, Figo tampil 172 kali di liga untuk Barcelona, ​​mencetak 30 gol. Dia dihormati di Barcelona karena kehadirannya di kemeja Barcelona telah diberikan kepada Catalonia rasa persetujuan eksternal. 

Real Madrid
Pada bulan Juli 2000, Figo membuat uang € 62 juta yang mengejutkan dan kontroversial kepada rival Barcelona Real Madrid.  Ada klausul pembelian dalam kontraknya di Barcelona, ​​biaya rekor dunia baru, yang ditemui Real Madrid, dan kedatangannya di Madrid menandai awal "era Galicoico" Florentino Pérez dari bintang-bintang global yang ditandatangani oleh klub setiap tahun. Figo menjadi fokus baru dari persaingan Barcelona-Real Madrid, dengan fans Barcelona merasa dikhianati oleh transfernya dan berbalik melawannya.  Kepindahannya ke Madrid signifikan karena statusnya sebagai pemain bintang di Barcelona, ​​andal dan berkomitmen untuk penyebabnya sebagai pemimpin tim. Salah satu rekan setimnya di Barcelona menyatakan, “Rencana kami sederhana: berikan bola kepada Luís. Dia tidak pernah bersembunyi. ” Meskipun sekarang mengenakan kemeja putih Real Madrid, dia memenangkan penghargaan Ballon d'Or pada November 2000, sebagian besar untuk apa yang dia lakukan untuk Barcelona di mana dia menjadi yang terbaik di dunia. 

Ketika Figo kembali ke Barcelona untuk pertama kalinya dalam kaos Real Madrid pada 21 Oktober 2000, kebisingan di Camp Nou memekakkan telinga.  Ada spanduk di sekitar stadion dengan kata-kata seperti "Pengkhianat", "Judas", "Sampah", dan "Mercenary".  Figo tanpa ampun mengejek seluruh, dan ketika dia keluar dari terowongan dan berlari ke lapangan, cemoohan dari hampir 98.000 penggemar Barcelona meningkat, dengan Figo yang tampak terkejut meletakkan jari-jarinya ke telinganya.  Ketika El Clásico dimulai, setiap kali Figo mendapatkan bola, suara itu naik dengan penghinaan dan misil terbang seperti jeruk, botol, pemantik rokok, dan ponsel. Pengambil sudut reguler untuk Madrid, Figo tidak mengambil setiap tikungan di Camp Nou untuk menghindari berada di dekat penggemar.  Barcelona menang, menang 2-0, dan Presiden Real Madrid Florentino Pérez menyatakan setelah pertandingan, "Suasana membuat kita semua."  Bek Madrid Iván Campo berkomentar, "Malam itu ketika Figo pertama kali kembali luar biasa. Saya "Aku tidak pernah mendengar hal seperti itu. Lu tidak pantas mendapatkannya. Dia telah memberikan semuanya untuk Barcelona. Itu dibangun sebelumnya: 'seorang pengkhianat akan datang," kata media. Tidak, Luís Figo akan datang, salah satu hebat untuk Anda. Malam itu menyakitinya, Anda bisa melihat. Kepalanya tertunduk dan dia berpikir: 'neraka, saya di sini musim lalu ...' Tapi emosi abadi saya adalah kekaguman: Anda punya bola. "

Di musim pertamanya bersama Madrid, Figo memenangkan gelar La Liga 2001, mencetak 14 gol di semua kompetisi. Ia menerima Pemain Terbaik Dunia FIFA tahun ini.  Dia akan bergabung di klub oleh Zinedine Zidane pada pertengahan tahun 2001, dan di musim berikutnya Madrid memenangkan UEFA Champions League 2001-02. 

Pertandingan kedua Figo kembali di Camp Nou, pada 23 November 2002, menghasilkan salah satu gambar yang menentukan dari persaingan Barcelona-Real Madrid.  Tidak ada tanda-tanda kebencian atau sakitnya mereda, dan setiap kali dia datang dalam jangkauan penggemar Barcelona, ​​kaleng bir, korek api, botol dan bola golf terbang.  Figo berkomentar, "Saya khawatir bahwa orang gila mungkin kehilangan kepalanya."  Kali ini, Figo telah memutuskan bahwa ia akan mengambil tendangan sudut, serta lemparan ke dalam, dan di tengah-tengah babak kedua Madrid memenangkan tendangan sudut. Di tengah hujan benda terbang, Figo membutuhkan waktu dua menit untuk mengambilnya.  Sudut lain menyusul di sisi lain, dan ketika Figo berjalan menyeberang, dia melambat untuk mengambil misil dan ketika dia bersiap untuk mengambil tendangan sudut, dia memindahkan beberapa puing-puing, sambil memberikan jempol yang ironis dan tersenyum.  Setiap kali ia mulai berlari untuk mengambil tendangan sudut, lemparan lain akan mendarat yang berulang-ulang, sampai wasit Luis Medina Cantalejo menghentikan pertandingan selama hampir 20 menit.  Selama istirahat dalam permainan, gambar mendefinisikan persaingan, kepala babi, dijemput di kamera, yang berada di antara puing-puing di dekat bendera sudut. 

Figo akan menghabiskan lima musim di Madrid, dengan keberhasilan terakhirnya adalah gelar La Liga 2003. Pada April 2013, Figo diberi nama oleh surat kabar olahraga Marca sebagai anggota "Sebelas asing terbaik dalam sejarah Real Madrid."

Inter Milan
Figo meninggalkan Real Madrid untuk bergabung dengan klub Italia Inter Milan pada pertengahan 2005 dengan transfer bebas setelah kontraknya dengan Madrid telah berakhir. Ini berarti bahwa Figo akhirnya akan dapat bermain untuk klub di Italia, sesuatu yang dia punya kesempatan untuk dilakukan sebelum pindah ke Barcelona, ​​tetapi gagal karena perselisihan antara kedua klub yang tertarik, Juventus dan Parma. Selama pertengahan tahun 2008, rekan senegaranya Figo José Mourinho bergabung dengan Inter pada level manajerial. Ini telah dikatakan untuk menyenangkan Figo, karena ia akan memiliki beberapa rekan tim Portugal selama sisa masa tinggalnya di Inter.

Pada 16 Mei 2009, Figo mengumumkan pengunduran dirinya dari sepakbola, pada hari yang sama Inter memenangkan gelar 2008-09, dan menegaskan kembali hal ini pada 30 Mei; pertandingan terakhirnya pada 31 Mei melawan Atalanta di San Siro. Atas desakan Javier Zanetti, Figo menjadi kapten tim untuk pertandingan terakhirnya. Dia menerima tepuk tangan meriah dari orang banyak saat dia digantikan oleh Davide Santon. Tendangan bebas yang ia cetak dalam perpanjangan waktu melawan Roma selama Supercoppa Italiana adalah momen paling berkesannya di Italia. 

Figo berkata, "Aku meninggalkan sepak bola, bukan Inter." Dia diwawancarai oleh Inter Channel setelah pertandingan terakhirnya melawan Atalanta dan juga berkata, "Saya berharap dapat membantu klub ini menjadi lebih besar juga setelah masa pensiun saya. Saya pasti akan bekerja untuk Inter di masa depan di dewan klub. Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan tetap di sini untuk waktu yang lama. Apa yang tidak akan saya lupakan adalah cinta yang telah saya terima sejak hari pertama saya di sini dari rekan setim dan presiden saya Massimo Moratti. Saya tidak akan pernah melupakannya, Inter telah memberi saya kesempatan untuk memulai siklus kemenangan dengan beberapa orang luar biasa. " Figo berada di sela-sela ketika Inter memenangkan Liga Champions UEFA 2009–10 pada 22 Mei 2010.

Karir internasional
Pemimpin "Generasi Emas" Portugal, Figo memenangkan Kejuaraan Pemuda Dunia FIFA pada tahun 1991, tahun yang sama ia melakukan debut seniornya melawan Luksemburg pada 16 Oktober 1991, dalam pertandingan persahabatan yang berakhir 1–1 ketika ia baru berusia 18 tahun . Gol pertamanya menyamakan kedudukan dalam kemenangan persahabatan 2-1 atas Bulgaria di Paris pada 11 November 1992. Figo mencetak tiga gol dalam delapan pertandingan kualifikasi untuk UEFA Euro 1996, ketika negaranya mencapai turnamen benua untuk pertama kalinya dalam 12 tahun. Dalam pertandingan grup terakhir di turnamen, melawan Kroasia di City Ground di Nottingham, Figo membuka kemenangan 3-0 dengan gol pada menit keempat; hasilnya mengirim Portugal ke perempat final sebagai juara grup di depan lawan mereka. 

Piala Dunia Euro 2000 dan 2002
Figo tampil di semua sepuluh kualifikasi Portugal untuk Kejuaraan Eropa berikutnya, mencetak tiga kali dalam proses. Pada tanggal 12 Juni 2000, dalam pertandingan pembukaan turnamen mereka di Eindhoven, dia mencetak gol pertama Portugal ketika mereka bangkit dari ketinggalan untuk mengalahkan Inggris 3-2, sekali lagi maju sebagai juara grup untuk tersingkir di semifinal.  Dia diistirahatkan oleh Humberto Coelho untuk pertandingan grup terakhir melawan Jerman di Rotterdam, memutus rantai 32 penampilan internasional berturut-turut.  Satu-satunya hat-trick untuk tim nasionalnya datang pada 15 Agustus 2001, ketika ia menjaring semua gol dalam kemenangan persahabatan 3-0 atas Moldova di Estádio de São Luís di Faro. 

Dengan enam gol dalam sembilan pertandingan, Figo membantu Portugal lolos ke Piala Dunia FIFA 2002; pada 2 Juni 2001, dalam kualifikasi melawan Republik Irlandia di Lansdowne Road, ia menjabat sebagai kapten untuk pertama kalinya pada topi ke-74 dan mencetak gol penyeimbang untuk hasil imbang 1-1.  Dalam Piala Dunia pertama mereka sejak 1986, Portugal mengalami eliminasi tahap grup sementara Figo gagal mencetak gol.

Piala Dunia Euro 2004 dan 2006
Pada 18 Februari 2004, Figo meraih topi ke-100 dalam imbang persahabatan 1-1 dengan Inggris di Estádio Algarve, bermain sebagai kapten meski kapten reguler Fernando Couto berada di starting line up.  Belakangan tahun itu di Kejuaraan Eropa di kandang, ia menjadi kapten setelah Couto dijatuhkan. Dia mengumumkan pengunduran dirinya dari sepak bola internasional menyusul kekalahan akhir Euro 2004 oleh Yunani karena keretakan yang ditimbulkan antara dia dan pelatih nasional Luiz Felipe Scolari, meskipun ini ditolak.  Pada bulan Juni 2005, ia membalikkan keputusannya dan kembali untuk kemenangan kualifikasi Piala Dunia 2006 melawan Slovakia dan Estonia di bawah Scolari. 


Figo menjadi kapten tim selama Piala Dunia 2006, memimpin tim ke semi-final. Dengan tiga kemenangan, Portugal selesai di puncak grup mereka dan lolos ke babak knock-out dengan Meksiko. Mereka maju melewati Belanda di babak 16 besar, dan mengalahkan Inggris melalui adu penalti di perempat final. Figo tidak ikut serta dalam adu penalti, setelah digantikan oleh Hélder Postiga.  Di semifinal, Portugal dikalahkan oleh Prancis berkat penalti dari mantan rekan satu klubnya dan kapten Prancis Zinedine Zidane. Ini adalah hasil akhir terbaik Portugal dalam 40 tahun. Playoff tempat ketiga menyebabkan beberapa kontroversi karena Figo tidak mulai; Pauleta menjadi kapten tim di tempatnya. Namun, Portugal tertinggal 2-0 untuk tuan rumah Jerman dan Figo menggantikan Pauleta di menit ke-77, yang menyerahkan kembali ban kapten kapten untuk sorak-sorai dari kedua penggemar Portugis dan Jerman. Meskipun Jerman mencetak gol lain tak lama setelah Figo masuk, ia mengakhiri topi terakhirnya untuk negaranya pada catatan tinggi dengan menyiapkan Nuno Gomes untuk kepala dalam gol hiburan menit ke-88,  sehingga melewati kaus nomor 7 ke bawah ke penggantinya , Cristiano Ronaldo.

Meskipun tidak memiliki piala untuk ditampilkan untuk "Generasi Emas," Figo berhasil menjadi kapten tim untuk penampilan Piala Dunia terbaik mereka sejak era Eusébio pada tahun 1966, serta membantu Portugal untuk hasil terbaik mereka di Kejuaraan Eropa UEFA sampai mereka memenangkannya pada tahun 2016. Ia menyelesaikan karir internasionalnya dengan 127 penampilan dan mencetak 32 gol, dan memegang rekor hingga Juni 2016 untuk sebagian besar penampilan bersama tim nasional Portugal; ia juga merupakan pencetak gol tertinggi keempat sepanjang Portugal

Kehidupan pribadi
Figo menikah dengan model Swedia Helen Svedin. Mereka memiliki tiga anak perempuan - Daniela (lahir Maret 1999), Martina (lahir pada April 2002), dan Stella (lahir 9 Desember 2004). Mereka memiliki rumah di pedesaan di luar Sollefteå, Swedia.

Bersama dengan rekan senegaranya, mantan manajer tim nasional Portugal dan mantan pelatih tim muda Carlos Queiroz, Figo adalah pemegang kursi bersama untuk Tim A1 Portugal, di Grand Prix A1, selama musim 2005–06. Dia sekarang memiliki bar kelas atas di wilayah Algarve di Portugal.

Figo adalah duta besar untuk Kemitraan Stop TB dalam perang melawan tuberkulosis.  Dia bekerja erat dengan Inter Milan, melayani sebagai duta untuk klub di berbagai fungsi di seluruh Eropa.  Dia juga anggota dewan proyek amal Inter Campus yang dijalankan oleh Inter Milan. 

Figo adalah pendiri Network90, situs jejaring anggota pribadi untuk Industri Sepak Bola Profesional.  Figo fasih dalam lima bahasa: Portugis, Spanyol, Inggris, Italia dan Perancis. 

Prestasi

Klub
Sporting CP
Taça de Portugal: 1994–95

Barcelona
La Liga: 1997–98, 1998–99
Copa del Rey: 1997, 1998
Supercopa de España: 1996
UEFA Cup Winners' Cup: 1997
UEFA Super Cup: 1997

Real Madrid
La Liga: 2000–01, 2002–03
Supercopa de España: 2001, 2003
UEFA Champions League: 2002
UEFA Super Cup: 2002
Intercontinental Cup: 2002

Inter Milan
Serie A: 2005–06, 2006–07, 2007–08, 2008–09
Coppa Italia: 2006
Supercoppa Italiana: 2005, 2006, 2008

Portugal

FIFA U-20 World Cup: 1991
UEFA Euro Under-17 Football Championship: 1989

Individu
Ballon d'Or: 2000
UEFA Under-21 Championship Golden Player: 1994
Portuguese Golden Ball: 1994
Portuguese Footballer of the Year: 1995, 1996, 1997, 1998, 1999, 2000
La Liga Foreign Player of the Year: 1999, 2000, 2001
UEFA European Football Championship Teams of the Tournament: 2000, 2004
FIFA World Player of the Year: 2001
UEFA Team of the Year: 2003
FIFA 100
Golden Foot: 2011

Gelar bangsawan Ordo
PRT Order of Prince Henry - Officer BAR.png Officer of the Order of Prince Henry.
Medal of Merit, Order of the Immaculate Conception of Vila Viçosa (House of Braganza)

sumber : wikipedia, google

Profil Pemain Legendaris Rivaldo

Rivaldo Vitor Borba Ferreira (lahir 19 April 1972; umur 46 tahun) merupakan seorang pemain sepak bola berkebangsaan Brasil yang kini bermain untuk klub FC Bunyodkor. Dia pernah membela klub utamanya seperti Santa Cruz, Mogi Mirim, Corinthians, Palmeiras, Deportivo La Coruña, Barcelona, Milan, Cruzeiro, Olympiacos,dan AEK Athens.


Konon, banyak anak yang tidak beruntung yang lahir dan tumbuh besar di Recife, Brasil. Daerah tersebut adalah salah satu daerah miskin di Brasil karena dipenuhi oleh orang-orang miskin. Penyebabnya sederhana: para orang tua di Recife sering kali terlalu sibuk untuk menyiasati kehidupan. Hal ini kemudian membuat anak-anak mereka terabaikan. Mereka tak terdidik. Daripada bersekolah, anak-anak itu kemudian memilih untuk mengendus lem di pinggir jalan, menjadi pencopet, atau bergelut dengan prostitusi. Situasi ini kemudian terus berlanjut, dari satu generasi ke generasi lainnya. Roda kemiskinan di Recife terus berputar dengan cara semacam itu.

Rivaldo
Rivaldo.jpg
Informasi pribadi
Nama lengkapVítor Borba Ferreira
Tanggal lahir19 April 1972 (umur 46)
Tempat lahirPaulistaBrasil
Tinggi186 m (610 ft 3 in)
Posisi bermainGelandang
Informasi klub
Klub saat iniBunyodkor
Nomor10
Karier senior
TahunTimTampil(Gol)
1991–1992Santa Cruz0(0)
1992–1993Mogi Mirim30(10)
1993–1994Corinthians41(17)
1994–1996Palmeiras44(21)
1996–1997Deportivo La Coruña41(21)
1997–2002Barcelona157(86)
2002–2003Milan22(5)
2004Cruzeiro2(1)
2004–2007Olympiacos70(36)
2007–2008AEK Athens29(8)
2008–Bunyodkor50(30)
Tim nasional
1992-1993Brasil U-209(1)
1993–2003Brasil74(34)
Menariknya, tidak seperti kebanyakan bapak-bapak di Recife lainnya, Romildo Borreira sangat peduli dengan masa depan anaknya. Dia tidak ingin anaknya mengalami kehidupan yang sama tidak beruntungnya dengan dirinya. Dia kemudian mendidik dan mengarahkan anaknya agar mau menjadi pesepakbola. Sayangnya, saat anaknya belum benar-benar menjadi seorang pesepakbola, maut harus menjemput Romildo terlebih dahulu. Saat anaknya baru berusia 15 tahun, Romildo meninggal karena ditabrak oleh sebuah bus.

Meski begitu, keinginan Romildo itu ternyata terus dijaga oleh anaknya. Anak itu memang tidak sekolah seperti anak-anak miskin Recife lainnya, tetapi daripada melakukan hal yang tidak-tidak, anak itu setiap harinya justru memilih berjalan sepanjang 17 kilometer untuk berlatih sepakbola. Dia ingin sekali mewujudkan keinginan ayahnya. Dia harus bisa menjadi seorang pesepakbola.

Saat mengetahui keinginan anak itu, orang-orang yang berada di lingkungannya mungkin lebih senang menertawakannya daripada memberikan dukungan kepadanya. Pasalnya, anak itu kurus dan nyaris tidak bisa tumbuh karena kekurangan gizi. Selain itu, dia juga nyaris tak bergigi karena kekurangan nutrisi. Dengan keadaan seperti itu, bagaimana bisa dia menjadi pesepabola?

Kenyataannya, anak itu ternyata benar-benar bisa menjadi seorang pesepakbola. Bahkan, dia bukan hanya pesepakbola biasa saja. Rivaldo, nama anak itu, adalah pesepakbola yang hebat. Dia kemudian dikenal di seluruh penjuru dunia karena kehebatannya itu. Dan ketika banyak orang berbicara soal prestasi tertinggi yang pernah diraih para pesepakbola, nama Rivaldo setara dengan emas.

Setelah berhasil menjadi bintang saat tampil bersama Corinthians dan Palmeiras, Rivaldo yang saat itu baru berusia 22 tahun kemudian memulai petualangannya di Eropa. Dia memilih bergabung bersama Deportivo La Coruna, salah satu kontestan La Liga, divisi teratas sepakbola Spanyol. Tak membutuhkan waktu lama, Rivaldo ternyata langsung bisa unjuk kebolehan di klub barunya itu. Di musim pertamanya, La Liga musim 1996/97, Rivaldo berhasil mencetak 21 gol, berada di peringkat keempat top skorer La Liga pada musim itu. Selain itu, ia juga berhasil membawa La Coruna finis di peringkat ketiga, di bawah Real Madrid dan Barcelona.

Karena prestasinya itu, tantangan berat kemudian harus dihadapi oleh Rivaldo: Barcelona, raksasa Spanyol yang sedang tertidur, menginginkan jasanya. Saat itu, setelah berhasil meraih gelar La Liga empat kali secara beruntun, dari musim 1990/91 hingga musim 1993/94, Barcelona sudah tidak pernah lagi menyentuh gelar La Liga. Blaugrana, julukan Barcelona, masih dalam era transisi pasca kesuksesan Johan Cruijff, dan gelar Piala Winner dan gelar Copa Del Rey yang diraih Bobby Robson, pengganti Cruijff, pada musim 1996/97 tetap tak mampu menyelamatkannya dari pemecatan. 

Sadar bahwa Rivaldo membutuhkan tantangan seperti itu untuk berkembang, Rivaldo kemudian pindah ke Barcelona. Dia diharapkan menjadi bintang baru di Barcelona, setelah Ronaldo, bintang Barcelona sebelumnya, memilih pindah ke Italia untuk merumput bersama Inter Milan. Namun segalanya ternyata tidak berjalan dengan mudah bagi Rivaldo. Pasalnya, selain harus menghadapi tekanan lebih besar dari para pendukung Barcelona, Rivaldo juga harus berhadapan dengan Louis van Gaal, seorang pelatih asal Belanda yang begitu keras kepala.

Daripada memainkan Rivaldo sebagai pemain nomor 10, Louis van Gaal justru lebih senang memainkannya sebagai sayap kiri di dalam sistemnya. Pelatih asal Belanda tersebut menginginkan Rivaldo mampu memberikan dampak di posisi barunya itu. Meski tidak nyaman, pada dua musim pertamanya Rivaldo memilih mengikuti keinginan pelatihnya itu. Namun, dia tidak benar-benar mematuhinya. Sementara Louis van Gaal menginginkan agar dia senantiasa melakukan pergerakan di sisi lapangan, Rivaldo justru sering melakukan pergerakan diagonal ke tengah lapangan, berlagak seperti pemain nomor 10. Dia melewati pemain belakang lawan semaunya, membuat mereka tampak benar-benar bodoh, dan seperti tak mau berhenti mencetak gol.

Daripada memainkan Rivaldo sebagai pemain nomor 10, Louis van Gaal justru lebih senang memainkannya sebagai sayap kiri di dalam sistemnya

Apa yang dilakukan Rivaldo tersebut mungkin mengganggu Louis van Gaal. Tetapi karena dampaknya cukup bagus untuk tim, asal masih memulai pertandingan di sisi kiri lini serang Barcelona, Louis van Gaal membiarkan bintang baru Barcelona tersebut bertingkah semaunya. Bagaimana pun, karena kehebatan Rivaldo, Barcelona berhasil menjadi juara La Liga dua kali berturut-turut, musim 1997/98 dan 1998/99, di dua tahun pertama kepelatihan Louis van Gaal.

Selama dua musim tersebut, Rivaldo sendiri berhasil menjadi top skorer Barcelona. Di musim 1997/98, Rivaldo berhasil mecetak 19 gol, dan di musim 1998/99, dia berhasil mencetak 24 gol. Karena prestasinya tersebut, Rivaldo juga berhasil menggenggam gelar Ballon d'Or pada tahun 1999, sebuah gelar individu yang didambakan para pesepakbola profesional.

Segala hal yang berhasil dicapai Rivaldo tersebut kemudian mendorong keberaniannya untuk menanyakan sesuatu kepada Louis van Gaal. Dengan malu-malu, dia bertanya: "Apakah saya sudah boleh bermain di posisi nomor 10, posisi terbaik saya, pada musim depan?"

Karena kehebatan Rivaldo, Barcelona berhasil menjadi juara La Liga dua kali berturut-turut, musim 1997/98 dan 1998/99, di dua tahun pertama kepelatihan Louis van Gaal

Sayangnya, Rivaldo kemudian harus ditepikan karena pertanyaannya itu. Dia harus disingkarkan. Louis van Gaal merasa bahwa Rivaldo berani mengusik otoritasnya. Masalahnya, Van Gaal ternyata juga harus menerima dampak buruk karena perlakuannya itu: tanpa Rivaldo, Barcelona tampil gagap di setiap kompetisi yang diikutinya. Meski akhirnya mau berkompromi dengan kembali memainkan Rivaldo, apa yang dilakukan Van Gaal sudah terlambat. Barcelona mengakhiri musim 1999/2000 dengan tangan hampa. Mereka gagal di La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions Eropa.

Sementara Louis van Gaal harus angkat kaki karena capaian buruknya itu, di bawah asuhan Carles Rexach, pengganti Louis van Gaal, Rivaldo bisa kembali menjadi pilihan reguler Barcelona. Tidak hanya itu, dia juga bisa kembali bermain di posisi terbaiknya – sebagai pemain nomor 10. Dan dari posisi favoritnya itu, Rivaldo kemudian berhasil mencetak 36 gol untuk Barcelona di seluruh kompetisi, salah satu catatan terbaiknya di sepanjang kariernya.

Sayangnya, Rivaldo mengalami penurunan pada tahun kedua Rexach. Dia hanya mampu mencetak 8 gol di La Liga. Meski demikian, tiga gol terakhirnya di La Liga musim itu berhasil membuat Barcelona finis di urutan keempat dan bisa tampil di Liga Champions Eropa pada musim berikutnya. Dia adalah seorang pemain bintang. Dan sebagai seorang pemain bintang, dia masih bisa berbuat sesuatu di dalam kondisi buruk sekali pun.

Menariknya, kegagalan Barcelona meraih piala kemudian manajemen Barcelona mengambil keputusan mengejutkan. Bukan, bukan pemecatan Charles Rexach yang menjadi kejutannya – pemecatan Rexach masih dalam tahap wajar –, melainkan kembalinya Louis van Gaal ke Barcelona. Keputusan itu secara tidak langsung juga mengusir Rivaldo dari Camp Nou. Jika Louis van Gaal kembali, Rivaldo harus pergi. Dan pemain yang secara kesuluruhan sudah mencetak 109 gol untuk Barcelona itu benar-benar angkat kaki selepas mengantar Brasil meraih gelar Piala Dunia 2002.

Menikmati senja karier
Rivaldo kemudian memulai petualangan barunya di Italia, bermain bersama AC Milan pada musim 2002/03. Saat itu, meski dia masih berusia 30 tahun dan baru saja menjadi salah satu bintang Brasil di Piala Dunia, tak sedikit orang yang mengira bahwa sihir Rivaldo benar-benar sudah habis. Sepakbola Italia mengedepankan taktik, sementara Rivaldo bukan orang yang cocok untuk bermain dalam sistem tertentu. Untuk membuatnya tampil hebat, dia harus diberikan kebebasan.

Asumsi orang-orang itu tak benar tapi juga tak salah. Dalam skema pohon natal, 4-3-2-1, yang diterpakan oleh Carlo Ancelotti, pelatih Milan, Rivaldo masih mampu memberikan dampak. Bersama Rui Costa, dia adalah pemain kreatif berbahaya yang dimiliki Milan. Namun setelah Silvio Berlusconi, presiden Milan, menginginkan timnya bermain dengan dua orang penyerang dan dia lebih sering cedera, bangku cadangan kemudian menjadi salah satu tempat favoritnya.

Menariknya, dari sinilah sebetulnya orang-orang bisa belajar dari Rivaldo. Alasan mengapa dia layak untuk dicintai sebagai pemain sepakbola juga bisa dimulai dari perjalanannya dalam menikmati penurunan kariernya: Rivaldo ternyata masih tetap mempunyai hasrat kuat untuk bermain sepakbola. Setelah didepak AC Milan pada tahun 2004, Rivaldo masih terus bermain hingga tahun 2015 lalu, hingga dia menginjak usia 43 tahun.

Ia sempat kembali ke Brasil, pergi ke Yunani untuk bermain bersama Olympiacos, menjajal sepakbola Uzbekistan, Dan menutup karier sepakbolanya bersama Mogi Mirim, salah klub asal Brasil. Dan di klub terakhirnya itu, dia bahkan sempat bermain bersama anaknya, Rivaldinho. Tidak hanya bermain bersama, bapak dan anak itu juga pernah sama-sama mencetak gol untuk Mogi Mirim dalam sebuah pertandingan.

Prestasi

Klub
Palmeiras
Brazilian Série A (1): 1994
Campeonato Paulista (2): 1994, 1996

Barcelona
UEFA Super Cup (1): 1997
Spanish La Liga (2): 1998, 1999
Copa del Rey (1): 1998
Copa Catalunya (1): 1999-00

A.C. Milan
UEFA Champions League (1): 2003
Coppa Italia (1): 2003
UEFA Super Cup (1): 2003

Cruzeiro
Campeonato Mineiro (1): 2004

Olympiacos
Greek Super League (3): 2005, 2006, 2007
Greek Cup (2): 2005, 2006

Bunyodkor
Uzbek League (3): 2008, 2009, 2010
Uzbekistani Cup (2): 2008, 2010

Brazil
Confederations Cup (1): 1997
Copa América (1): 1999
FIFA World Cup (1): 2002


Individu
Brazilian Football Museum Hall of Fame
Brazilian Bola de Prata: 1993, 1994
FIFA World Cup All-Star Team: 1998, 2002
ESM Team of the Year: 1998–99, 1999–2000
World Soccer Player of the Year: 1999
Onze d'Or: 1999
Ballon d'Or: 1999
FIFA World Player of the Year: 1999
Copa América 1999 Top Scorer
Copa América 1999 Most Valuable Player
Spanish League Footballer of the Year: 1999
UEFA Champions League Top Scorer: 2000
IFFHS World's Top Goal Scorer of the Year 2000
FIFA World Player of the Year: Bronze award 2000
FIFA World Cup Silver Boot: 2002
FIFA 100
Greek Championship best foreign player: 2006, 2007
Uzbek League 2009 Top Scorer

sumber : wikipedia, google

Pemain Legendaris Yang Pernah Membela Napoli

Società Sportiva Calcio Napoli (umumnya hanya disebut Napoli) , adalah sebuah klub sepak bola Italia yang bermarkas di Napoli, Campania. Klub ini memainkan pertandingan kandangnya di Stadion San Paolo yang berkapasitas 78.210 penonton. Seragam mereka berwarna biru langit, sehingga mereka dijuluki Azzurri (Biru).
Beberapa pemain mereka pada tahun 1980-an termasuk Diego Maradona, Andrea Carnevale, dan Antonio Careca.
Tahun 2004 setelah mengalami masalah keuangan, klub ini diumumkan telah dibeli oleh Lodo Petrucci dan berganti nama menjadi Napoli Soccer. Nama S.S.C. Napoli dipakai kembali tahun 2006.


Gianfranco Zola
Saat masih aktif bermain, Zola bermain sebagai striker atau gelandang serang. Ia pernah bermain untuk Napoli, Parma, Chelsea, dan Cagliari. Oleh para pendukung Chelsea pada tahun 2003, Zola dinobatkan sebagai Pemain Chelsea Terbaik Sepanjang Masa. Zola juga pernah memperkuat tim nasional Italia dengan mencatat 35 kali penampilan dari tahun 1991 hingga 1997.
Gianfranco Zola
Zola & Benitez Upton Park 09May09 - crop.jpg
Informasi pribadi
Nama lengkapGianfranco Zola
Tanggal lahir5 Juli 1966 (umur 52)
Tempat lahirOlienaSardiniaItalia
Tinggi168 m (551 ft 2 in)
Posisi bermainPenyerang
Gelandang Serang
Informasi klub
Klub saat iniChelsea (asisten pelatih)
Karier junior
1980–1983Corrasi Oliena
Karier senior*
TahunTimTampil(Gol)
1984–1986Nuorese31(10)
1986–1989Torres88(21)
1989–1993Napoli105(32)
1993–1996Parma102(49)
1996–2003Chelsea229(59)
2003–2005Cagliari74(22)
Total629(193)
Tim nasional
1991–1997[1]Italia35(10)
Dino Zoff
Zoff adalah seorang kiper dengan kemampuan yang luar biasa dan mempunyai tempat dalam sejarah sepak bola sebagai salah satu yang terbaik di posisinya. Ia mempertahankan rekor terlama tanpa kebobolan dalam turnamen internasional (1142 menit) antara 1972 dan 1974. Dengan 112 penampilan ia adalah yang ketiga terbanyak setelah Paolo Maldini dan Fabio Cannavaro.

Dino Zoff
Dino zoff.jpg
Informasi pribadi
Nama lengkapDino Zoff
Tanggal lahir28 Februari 1942 (umur 76)
Tempat lahirMariano del FriuliGoriziaItalia
Tinggi1,82 m (5 ft 11 12 in)
Posisi bermainPenjaga gawang
Karier senior*
TahunTimTampil (Gol)
1961-63
1963-67
1967-72
1972-83
1961-83
Udinese
Mantova
Napoli
Juventus
Total
38 (0)
131 (0)
143 (0)
330 (0)
642 (0)
Tim nasional
1968-83Italia112 (0)

Diego Maradona
Diego Armando Maradona (lahir di Buenos Aires, Argentina, 30 Oktober 1960; umur 57 tahun) yang lebih dikenal dengan sebutan Maradona adalah mantan pesepak bola legendaris Argentina. Maradona menjadi pelatih timnas Argentina mulai November 2008 sampai Juli 2010. Untuk Argentina Maradona tampil sebanyak 91 kali dan mencetak 34 gol. Di Napoli Maradona berhasil mempersembahkan Juara serie A  pertama kali dalam sejarah napoli dan menjuarai Piala italia pada tahun 1987.

Diego Maradona
Maradona at 2012 GCC Champions League final.JPG
Diego Maradona in 2012
Informasi pribadi
Nama lengkapDiego Armando Maradona
Tanggal lahir30 Oktober 1960 (umur 57)
Tempat lahirLanúsBuenos AiresArgentina
Tinggi165 cm (5 ft 5 in)
Posisi bermainGelandang serang
Karier junior
1968–1969Estrella Roja
1970–1974Los Cebollitas
1975-1976Argentinos Juniors
Karier senior*
TahunTimTampil(Gol)
1976–1981Argentinos Juniors167(115)
1981–1982Boca Juniors40(28)
1982–1984Barcelona36(22)
1984–1991Napoli188(81)
1992–1993Sevilla26(5)
1993–1994Newell's Old Boys5(0)
1995–1997Boca Juniors30(7)
Total492(258)
Tim nasional
1977–1994Argentina91(34)
Bruno Giordano
Bruno Giordano (lahir pada 13 Agustus 1956) adalah mantan pemain sepak bola Italia dan kini bekerja sebagai pelatih. Giordano lama mengembangkan kariernya di Lazio, dan memulai debutnya pada Liga Serie A pada 5 Oktober 1975. Ia mulai bergabung dengan Italia pada tahun 1978.

Bersama Diego Armando Maradona, Giordano turut mengantarkan Napoli mendapatkan gelar juara Serie A Italia pertamanya pada tahun 1987. Selanjutnya ia bermain untuk kesebelasan Bologna dan Ascoli, sebelum pensiun dan memulai karier selanjutnya sebagai pelatih tim sepak bola di Italia.
Bruno Giordano dengan SS Lazio.

Ciro Ferrara
Ciro Ferrara (lahir 11 Februari 1967; umur 51 tahun) merupakan seorang mantan pesepak bola professional asal Italia yang juga sempat menjadi pelatih di Juventus. Selama karier menjadi pemain, ia hanya bermain untuk Napoli dan kemudian Juventus. Ciro Ferrara juga turut serta mengantarkan Napoli mendapatkan gelar juara Serie A pada tahun 1987.

Ciro Ferrara
Ciro Ferrara.jpg
Informasi pribadi
Tanggal lahir11 Februari 1967 (umur 51)
Tempat lahirNaplesItalia
Tinggi180 m (590 ft 6 12 in)
Posisi bermainBek tengah (Sudah pensiun)
Karier junior
1980-1984Napoli
Karier senior*
TahunTimTampil(Gol)
1984–1994Napoli247(12)
1994–2005Juventus253(15)
Total500(27)
Tim nasional
1985–1987Italia U-216(1)
1987–2002Italia49(0)

Edmundo
Edmundo Alves de Souza Neto (dikenal sebagai Edmundo, lahir di Niteroi, 2 April 1971; umur 47 tahun) ialah seorang pemain sepak bola asal Brasil, dan dijuluki "O Animal" (Português: "Sang Hewan"). Riwayat Edmundo, sebagai pemain sepak bola, amat dekat dengan Vasco da Gama. Edmundo bermain untuk Brazil pada Piala Dunia 1998 dan dikenal akan pembawaannya yang berapi-api sehingga ia menerima sejumlah kartu merah. Edmundo pindah dari klub ke klub di Brasil dan Italia dan terlibat dalam sejumlah kontroversi, termasuk tabrakan mobil di mana 3 orang mati (ia sendiri kemudian dijatuhi hukuman penjara, meski tak pernah dijalani). Edmundo mencetak jejak unggul sebagai pemain istimewa dalam Kejuaraan Brazilia pada tahun 1997 untuk Vasco.

Edmundo
Edmundo.jpg
Informasi pribadi
Nama lengkapEdmundo Alves de Souza Neto
Tanggal lahir2 April 1971 (umur 47)
Tempat lahirNiteróiBrasil
Tinggi177 m (580 ft 8 12 in)
Posisi bermainTengah Depan
Informasi klub
Klub saat iniVasco da Gama
Nomor10
Karier junior
1982-1986
1987-1989
Vasco da Gama
Botafogo
Karier senior*
TahunTimTampil (Gol)
1990-1992
1993-1995
1995
1996
1996-1997
1997-1999
1999-2000
2000
2001
2001
2002
2003
2003-2004
2004
2005
2005
2005-2007
2008-
Vasco da Gama
Palmeiras
Flamengo
Corinthians
Vasco da Gama
Fiorentina
Vasco da Gama
Santos
Napoli
Cruzeiro
Tokyo Verdy
Urawa Red
Vasco da Gama
Fluminense
Nova Iguaçu
Figueirense
Palmeiras
Vasco da Gama
24 (8)
40 (20)
13 (4)
36 (32)
43 (38)
34 (12)
27 (29)
16 (9)
17 (4)
12 (3)
30 (18)
0 (0)
19 (7)
19 (7)
0 (0)
31 (15)
48 (14)
3 (3)
Tim nasional
1992-2000Brasil39 (10)
Paolo Di Canio
Paolo Di Canio (lahir di Roma, Italia, 9 Juli 1968; umur 50 tahun) adalah seorang pemain sepak bola Italia. Paolo Di Canio telah bermain di banyak klub di Eropa. Selain bermain di Italia Paolo Di Canio pernah bermain di Skotlandia dan Inggris. Saat ini dia di beri kepercayaan untuk menjadi pelatih salah satu klub liga inggris,Sunderland

Paolo Di Canio
Paolo Di Canio at Upton Park.jpg
Di Canio saat di Upton Park, September 2010
Informasi pribadi
Nama lengkapPaolo Di Canio
Tanggal lahir9 Juli 1968 (umur 50)
Tempat lahirRomaItalia
Tinggi178 m (584 ft)
Posisi bermainPenyerang / Playmaker
Informasi klub
Klub saat iniSunderland (Manajer)
Karier junior
Lazio
Karier senior*
TahunTimTampil(Gol)
1985–1990Lazio54(4)
1986–1987→ Ternana (pinjaman)27(2)
1990–1993Juventus78(6)
1993–1994Napoli26(5)
1994–1996Milan37(6)
1996–1997Celtic24(12)
1997–1999Sheffield Wednesday41(15)
1999–2003West Ham United118(48)
2003–2004Charlton Athletic31(4)
2004–2006Lazio50(11)
2006–2008Cisco Roma46(14)
Total532(127)
Tim nasional
1988–1990Italia U-219(2)
Fabio Cannavaro
Fabio Cannavaro, (lahir 13 September 1973; umur 44 tahun) adalah seorang mantan pemain sepak bola Italia yang saat ini menjadi pelatih. Dia dianggap sebagai salah satu pemain belakang terbaik sepanjang masa dan dijuluki "Muro di Berlino", yang berarti "Tembok Berlin", oleh para pendukung Italia. Dia menghabiskan sebagian besar kariernya di Italia. Dia memulai kariernya di Napoli, sebelum menghabiskan tujuh tahun di Parma, dengan tim itu ia memenangkan dua gelar Coppa Italia dan satu Piala UEFA pada tahun 1999. Setelah bermain di Internazionale dan Juventus, Cannavaro ditransfer bersama dengan manajer Fabio Capello dari Juventus ke Real Madrid, di sana ia memenangkan gelar La Liga berturut-turut pada tahun 2007 dan 2008. Setelah kembali ke Juventus selama satu musim pada 2009–10, ia bergabung dengan Al-Ahli di Dubai. Dia pensiun dari sepak bola profesional pada tahun 2011 karena mengalami permasalahan cedera di Al-Ahli.

Fabio Cannavaro
Fabio Cannavaro 2011.jpg
Cannavaro pada tahun 2011
Informasi pribadi
Nama lengkapFabio Cannavaro
Tanggal lahir13 September 1973 (umur 44)
Tempat lahirNapoli, Italia
Tinggi1,76 m (5 ft 9 in)[2]
Posisi bermainBek tengah
Informasi klub
Klub saat iniAl-Ahli (asisten manajer)
Karier junior
1988–1992Napoli
Karier senior*
TahunTimTampil(Gol)
1992–1995Napoli58(1)
1995–2002Parma212(5)
2002–2004Internazionale50(2)
2004–2006Juventus74(6)
2006–2009Real Madrid94(0)
2009–2010Juventus27(0)
2010–2011Al-Ahli16(2)
Total531(16)
Tim nasional
1993–1996Italia U-2121(0)
1997–2010Italia136(2)
Laurent Blanc
Laurent Robert Blanc (lahir di Alès, 19 November 1965; umur 52 tahun) merupakan mantan pemain sepak bola berkebangsaan Perancis. Dia pernah bermain untuk klub Montpellier HSC, S.S.C. Napoli, Nimes Olympique, AS Saint-Étienne, AJ Auxerre, FC Barcelona, Olympique de Marseille, Internazionale, dan Manchester United. Di timnas Perancis, dia bermain 97 kali main dan mencetak 16 gol.

Laurent Blanc
Laurent Blanc 2011.jpg
Blanc di 2011
Informasi pribadi
Nama lengkapLaurent Robert Blanc
Tanggal lahir19 November 1965 (umur 52)
Tempat lahirAlèsPerancis
Tinggi192 m (630 ft)
Posisi bermainBek sayap
Informasi klub
Klub saat iniParis Saint-Germain (Manajer)
Karier junior
1981–1983Montpellier
Karier senior*
TahunTimTampil(Gol)
1983–1991Montpellier243(76)
1991–1992Napoli31(6)
1992–1993Nîmes29(1)
1993–1995Saint-Étienne70(18)
1995–1996Auxerre23(2)
1996–1997Barcelona28(1)
1997–1999Marseille63(14)
1999–2001Internazionale67(6)
2001–2003Manchester United48(1)
Total602(125)
Tim nasional
1989–2000Perancis97(16)
Roberto Ayala
Roberto Fabián Ayala (lahir di Paraná, 14 April 1973; umur 45 tahun), dijuluki el Ratón adalah mantan pesepak bola Argentina yang berposisi sebagai bek tengah. Dianggap sebagai salah satu bek tengah terbaik dari generasinya, Ayala menjadi kapten tim nasional Argentina lebih dari 63 pertandingan. Ia bermain di tiga Piala Dunia dan keseluruhan membuat 115 penampilan internasional. 

Roberto Ayala
Roberto Ayala y Javier Zanetti - 07FEB2007 - Francia - presidencia-govar.jpg
Informasi pribadi
Nama lengkapRoberto Fabián Ayala
Tanggal lahir14 April 1973 (umur 45)
Tempat lahirParanáArgentina
Tinggi177 m (580 ft 8 12 in)
Posisi bermainBek
Karier junior
Ferro Carril Oeste
Karier senior
TahunTimTampil(Gol)
1991–1994Ferro Carril Oeste72(1)
1994–1995River Plate40(0)
1995–1998SSC Napoli87(1)
1998–2000A.C. Milan24(0)
2000–2007Valencia CF188(9)
2007Villarreal CF0(0)
2007-2009Real Zaragoza72(4)
2010Racing Club de Avellaneda16(0)
Tim nasional
1994–2007Argentina115(7)
sumber : wikipedia, google